Kamis, 09 Juli 2015

Bian Si Pendonor Cinta Bag3

                Pagi menjelang, aku terbangun akibat sinaran matahari memancar di mata ku. Ku lihat di meja kamar ku telah tersedia susu segar yang sedang menunggu ku untuk ku minum. Aku langsung menyambar dan meminum susu itu, lalu pergi mandi.
                Dengan baju yang tebal, aku dan Ivan keluar Vila. Sekedar hanya ingin berjalan-jalan melihat kebun teh di depan kami. 
 “Sepertinya aku dan Pipi, sudah klop untuk menikah.” Ivan membuka percakapan yang langsung membuat jantung ku tersengat. Aku hanya bisa tersenyum sambil mendekap jantung ku
.”Bagaimana menurut mu?Apakah aku akan melamarnya?” Tanya nya.
“Aku rasa , kamu bisa mengutarakannya hari ini.” Usul ku yang aku rasa itu gila..
“Baik lah , akan ku utarakan malam ini. Aku harus mempersiapkan semuanya sekarang. Maaff ya, ku tinggal dulu.” Jawabnya dengan kegirangan, lalu berlari meninggalkan ku.
                Rasa sakit jantung ku tak tertahankan lagi,aku berjalan tertatih-tatih kesakitan. Tak lama kemudian mata ku mulai buram, seseorang menangkap ku dari belakang. Aku melihat Pretty saat itu, wajahnya buram dan tak dapat ku lihat jelas. Dia membawa ku ke bawah pohon dengan rumput jepang dimana-mana. Dia meletakkan tubuh ku di pangkuannya.
Dia terus menangis, itu dapat ku rasakan karena air matanya berulang kali menetes di wajah ku,dan membuat ku terbangun dari pingsan ku.
”Kenapa harus menangis?” Aku terdongak ke atas untuk menghapus air matanya sambil tersenyum.
Dia hanya memilih membisu dan menangisi keadaan ku. Aku melanjutkan perkataan ku, “Aku sepertinya sudah membaik.” Aku beranjak bangun dari pangkuannya yang nyaman.
“Terlalu berat bagi ku untuk berpura-pura tidak mencintai mu.” Utaraan isi hati nya yang membuat ku lirih.
“Andai kan aku adalah orang yang mempunyai jantung yang sehat, aku pasti tidak akan membiarkan mu tersiksa seperti ini.” Aku menepis keadaan dengan kata-kata yang tak mungkin terjadi.
                Aku mengajak Pretty kembali ke villa, karena hari mulai beranjak malam. Sesampainya di villa aku melihat Ivan sedang duduk di bangku taman depan sambil membawa segerombolan balon berwarna merah dan berbentuk hati. Dia mengacungkan tangannya kearah aku, kini aku tau apa maksudnya, aku tersenyum. Ivan mendekati Pretty sambil memberikan balon itu ke Pretty.
 “ Aku sebenarnya sudah memendam terlalu lama perasaan terhadap mu, tapi kini aku siap mengatakannya.” Dia pun menghela nafas nya dan mengambil sebuah cincin indah dari kantong celananya lalu melanjutkan kata-katanya, “Aku mencintai mu, aku ingin melamar mu sekarang. Aku ingin kamu menjadi istri ku, Apakah kamu bersedia?” Perlahan-lahan aku mundur ke belakang beberapa langkah.
 Pretty mulai menangis, “Kamu melamar ku?” Serunya.
“Iya.” Jawab Ivan dengan penuh senyuman lebar di bibir nya.
                Pretty melihat ke arah ku yang saat itu sedang mendekap jantung ku yang terluka dan  sangat perih sekali. Aku tersenyum. Ivan melihat ku lalu beralih lagi pandangannya ke Pretty , Dia mulai curiga kalau sedang terjadi sesuatu antara aku dan Pretty. “Kalian saling mencintai ?”Tanya nya yang sangat mengejutkan ku.
“Ya,, aku memang mencintainya, dan dia juga mencintai ku. Hanya karena ada penghalang di antara kami, dia tidak bisa menerima cinta ku.” Teriak Pretty seperti meledak.
Dia berlari meninggalkan kami ke taman belakang.
 “Kenapa kamu gak pernah cerita ke aku,bi?”Tanya Ivan menatap ku dengan tatapan bersalah.
 “Aku bisa jelasin semuanya ,van….” Ivan langsung memotong pembicaraan ku, 
“Aku bodoh sekali, aku terlanjur melukai hatimu bi. Maafin aku, aku mohon kamu harus mengejar Pretty, bi!!Dia sangat membutuhkan mu saat ini.”“Baik lah, tapi kamu harus menunggu kami di sini!” 
Aku langsung berlari ke taman belakang.   Aku menemukan Pretty sedang menangis di bawah pohon cemara kecil di taman belakang, aku duduk di sampingnya. “Kamu gak mau mempertimbangkan lamaran Ivan?” Tanya ku sangat berhati-hati.“Untuk apa, seratus kali pun dia melamar ku , aku akan tetap menolaknya.” Pretty meledak-ledak.“Ayolah, dia mencintai mu.” bujuk ku .“Tapi aku tidak mencintai nya, aku mencintai mu. Dan hanya akan menikah dengan mu!!” Katanya, Lalu dia menambahkan lagi, “Aku sangat tersiksa melihat senyummu itu tadi, Kamu pikir aku tidak tau kalau kamu sangat sedih dan hati mu perih saat dia memegang tangan ku dan mengatakan semuanya.Tapi apa reaksi mu?? Kamu hanya tersenyum seolah-olah kamu bahagia tetapi kamu menyembunyikan rasa sakit mu di balik senyuman mu itu. Semuanya tak terlihat oleh Ivan, karena kamu sangat mahir beracting di depannya.Tapi aku dapat melihatnya karena aku tau hati mu sedang merintih kesakitan memanggil nama ku.”
 Aku hanya terdiam karena mendengarkan utaian kata panjang dari mulutnya.“Aku hanya ingin melihat mu memiliki kehidupan yang normal bersama Ivan.”“Apakah hanya karena kamu memiliki jantung yang tak normal maka kamu mendefinisikan kalau kehidupan mu tak normal.” Sambungnya.  Dengan perasaan sedih bercampur murka aku berdiri dan langsung mengoyak baju kemeja katun ku, yang saat itu ku kenakan. “Kamu lihat ini!!Ini lah yang akan membuat mu malu jika kamu mengakui ku sebagai kekasih mu.” Bentak ku sambil menunjuk bekas jaitan operasi ku. Air matanya mengalir sangat deras sekali. 
 Tiba-tiba aku melihat seseorang sedang memperhatikan kami dari kejauhan, Anak laki-laki itu berjalan mendekati kami. Dan dia adalah Ivan,dia terbengong  seakan tak percaya melihat bekas jaitan operasi membekas di dada sahabat nya. 
“Kamu hebat!! Kamu tidak pernah menceritakan sedikit pun tentang ini ke aku , bi!” Ivan terduduk lemas di samping Pretty. Aku mulai jongkok perlahan, mengambil tangan Ivan dan Pretty,
 “ Waktu ku tak akan lama lagi, aku yakin ajal akan menjemput ku sebentar lagi. Aku mohon kepada kalian, senang kan lah aku di hari-hari terakhir ku.”
“Tapi , aku tidak akan menikahi Pretty jika dia dalam keadaan terpaksa.” Kata-kata Ivan membuat ku langsung menoleh ke arah Pretty sambil menggemgam kedua tangannya, “Ada yang ingin kamu katakan?”
Dia pun melontarkan suara dari mulutnya,” Aku tidak mencintainya.” Aku langsung menjawabnya, “Tapi kamu menyayanginya kan?” Dia pun mengangguk dua kali.“Cinta mu kepada Ivan,itu akan perlahan tumbuh di hatimu. Kamu hanya perlu bersabar.” Aku mencoba meyakinkannya. 
“Jika aku menikah dengan Ivan,Bagaimana dengan cinta mu kepada ku?” Tanya nya lagi sambil mengaliri tangan ku dengan air mata. Sekejap aku menoleh ke arah Ivan, dan mengambil tangannya. Aku letakkan tangan Ivan tepat di atas bekas jaitan operasi ku,dan tangan ku yang lainnya memegang tangan Pretty.
“Dari pada cinta ku mati percuma, aku akan mendonorkan cinta ku kepada Ivan. Sehingga Cinta ku padamu tetap ada di dalam raga Ivan.” Setelah aku mengatakan itu, Jantungku  menjadi sangat sakit sekali, dengan mata yang berkunang-kunang aku melepaskan tangan mereka berdua. Aku langsung terkapar hampir tak bernafas di atas rerumputan. 
 Suara mereka yang panik masih terdengar samar-samar oleh ku. Mereka cepat-cepat membawa ku ke kota. Aku dapat melihat Ivan yang panik menyetir dan Pretty yang terus menangis ketakutan. Aku juga dapat melihat raga ku di sana, tepat di pangkuan Pretty.

Tidak ada komentar:

Popular Posts