Sabtu, 11 Juli 2015

Bian Si Pendonor Cinta Bag4

        Mereka cepat-cepat membawa tubuh ku masuk ke dalam ruang UGD untuk di periksa. Aku melihat wajah cemas dari Ivan dan Pretty. Tak lama kemudian Bunda, Mama Pretty, Mami dan Papi Ivan datang ke rumah sakit. Tak tahan menahan sedih, Bunda ku langsung memeluk Pretty. Aku melihat mata Bunda berbinar-binar berharap aku masih bisa di selamatkan.
                Dokter pun keluar dari ruang UGD itu, dan mengatakan bahwa aku koma. Aku melihat Pretty tak bisa menahan dirinya untuk terus menjerit histeris dan menangis,mereka semua  berusaha menenangkannya.
***
1 minggu telah terlewati, Aku melihat bunda  dengan mata bengkaknya terus menangis berharap aku bangun. Aku telah mencoba untuk masuk ke dalam tubuh ku kembali, tapi tubuh ku menolakku. Aku hanya bisa berkata ,” Maafkan aku bunda.”
Bunda terus mendekap tangan ku…
                Tiba-tiba Pretty datang dengan sebuah bungkusan di tangannya, “ Siang bunda ..” Sapanya.
“Bunda,,Sebaiknya pulang dulu, Bunda terlihat letih. Biarkan Pretty yang menjaga Abi.” Usulnya. 
Pretty perlahan duduk di atas ranjang di sebelah kaki ku. “Tapi, bunda masih ingin bersama Bian.” Jawab bunda dengan suaranya yang sudah serak.
 “Iya, Pretty ngerti. Tapi kalau misalnya Bian lihat bunda capek karena dia, Bian juga pasti sedih.” Jelas Pretty.
                Pretty benar , aku sedih melihat bunda berantakan seperti itu. Bunda pun mendengarkan usul Pretty. Bunda keluar dari ruangan ku. Pretty beranjak berdiri dari ranjang ku, lalu duduk di kursi yang ada di sebelah ranjang.
                “Hei Abi Bodoh,, kenapa lama sekali kamu tidurnya ? Lihat sudah seminggu kamu tak bangun-bangun.” Ucapnya yang mulai menitikkan air mata di tangan ku. “Lihat lah,, aku bawa buah kesukaan mu. Aku bawa anggur , bi.” Aku sangat sengsara  melihat Pretty seperti itu, aku tak tega dia berbicara sendiri, Sedangkan tubuh ku yang kurus itu hanya diam seperti orang mati.
                Pretty mencium kening ku yang saat itu tubuh ku masih kaku seperti  mayat hidup. Lalu dia mulai bicara lagi, “Besok pukul 10 pagi,aku akan menikah dengan Ivan. Aku menuruti permintaan konyol mu itu. Aku melakukannya,karena sampai sekarang aku masih mencintai mu,dan ingin mengejar cinta mu yang kamu donor kan kepada nya waktu itu.”Dia mulai menangis lagi sambil memegang tangan ku, 
“Tak bisakah kamu menunjukkan bukti cinta kamu kepada ku 1 kali saja,walapun itu untuk yang terakhir kalinya ,bi? Aku hanya ingin kamu bangun dan memeluk ku saat ini. Aku yakin kamu pasti mendengar kata-kata ku.”
                Melihatnya seperti itu, aku berusaha masuk lagi ke dalam tubuh ku, tapi terus di tolak.
“Kamu tak menunjukkan reaksi apa-apa. Kini aku tau, kamu tak pernah sungguh-sungguh mencintai ku.”
Dia langsung berlari keluar ruangan ku. Aku mengikutinya, aku melihatnya langsung memeluk calon suaminya sambil mengatakan,” Aku hanya ingin dia mengucapkan lagi, bahwa dia mencintai ku. Tapi reaksinya tetap saja tidak ada.”
“Dia pasti akan mengatakannya, pi.” Ivan mencoba menenangkannya.
Mereka pun pergi meninggalkan rumah sakit.
                Besoknya pun tiba. Aku masih terpuruk akan kejadian semalam. Dengan perasaan yang sangat sedih, aku terus berusaha untuk masuk ke dalam tubuh ku, Tapi terus-menerus tubuh ku menolak. Jam sudah menunjukan jam 10 kurang 5 menit, dan itu berarti akad nikah akan segera di mulai. Aku Berusaha masuk ke dalam tubuh ku sekali lagi, dan ternyata berhasil.
 Aku langsung membangunkan tubuh ku, mencabut selang infus yang bersarang di tangan ku. Aku berlari-lari tertatih-tatih kesakitan, keluar rumah sakit. Suster –suster  berusaha mengejar ku, tapi aku keburu mendapatkan taksi yang langsung ku naiki. “Tolong, antarkan saya ke komplek Indah . No 23! Tolong Cepat ya pak.”
“Baik pak.” Jawab tukang supir taksi itu, yang menginjak gas nya lalu dengan tancap mobil taksi ini melaju. Aku terus mendekap jantung ku yang semakin lama semakin sakit. Dekapan ku mulai mengeluarkan darah.
                Aku pun sampai di depan rumah Pretty, Aku berlari dengan dekapan yang berdarah. Aku berdiri di depan pintu rumah Pretty, Saat itu ku dengar desah-desuh “SAH…SAH..” Yang menunjukkan bahwa Pretty telah resmi menikah dengan Ivan. Mendengar desah-desuh itu aku tersenyum lepas sambil menahan sakitnya jantung ku ini yang terus-terusan mengeluarkan darah.
 Pretty melihat ku, yang saat ini sedang berdiri di depan pintu rumahnya, dia tersadar dan langsung berteriak, “BIAN..” Aku tersenyum melihatnya karena mengenali ku. Aku terjatuh ke lantai karena tak sanggup menahan sakit nya jantung ini. Pretty dengan baju pengantin bernuansa kebayak berwarna putih yang glamor dan riasan make up yang melekat di wajahnya, semakin membuatnya tambah cantik. Pretty berlari mendekati ku,dan menidurkan ku di pangkuannya, Sementara yang lainnya memadati sekeliling ku.
“Kamu cantik sekali , pi.” Gombal ku sedikit sambil terus tersenyum walau dalam keadaan sekarat.

Dia pun tersenyum mengeluarkan lesung pipi nya. “ Adakah hal lain yang ingin kamu katakan?”
“Aku mencintai mu, pi.”Aku menggemgam erat tangan Pretty karena jantung ku berulah lagi. Dia langsung memelukku, “Itu kata yang ku tunggu-tunggu.”  Aku tertawa kecil, “Maaf telah mengotori baju pernikahan mu dengan darah ku.”
Aku mendongak ke atas dan melihat Ivan,aku mengulurkan tangan ku yang bergemetaran karena menahan sakit, dia menyambutnya dengan hangat.
“Hei,,Sekarang kamu resmi menjadi seorang suami, jagalah dia untuk ku.”
 Dia menjawab, “Ini semua terjadi karena kamu, bi. Anggap lah Pretty istri mu juga, karena Cinta mu telah kamu donorkan untuk ku. Jadi cinta kita menyatu dan sama-sama kita persembahkan untuk Pipi.”
Aku melihati mereka berdua,”Terima kasih, Van. Seperti biasanya kamu selalu baik pada ku.” Aku panik sejenak memanggil-manggil Bunda ku.
 “Bunda di sini,nak.” Teriak bunda yang langsung duduk di sebelah ku. Bunda memegangi tangan ku erat sekali.
 “Bunda, Abi sayang banget sama bunda. Maafin Abi ya, karena membuat bunda repot.”  Bunda ku menangis mendengar pembicaraan ku sambil terus menciumi tangan ku. Aku melihat ke sisi kiri,aku melihat mama,Papi dan mami, aku melanjutkan perkataan ku, “Abi juga sayang Mama, Mami juga, Papi yang selama ini menganggap Abi kayak anak sendiri. Kalian baik banget sama Bian.,,Tapi maafin Bian yang gak pernah bisa membalasnya. Terutama sama Bunda. “
Jantung ku tersontak memukul seperti gembungan yang akan pecah.
Aku mengucapkan kata terakhir ku, “ Kata terakhir ku ini, buat kamu pi. Terus lah cari cinta ku dan Ivan di dalam diri Ivan. Dan jika kelak nanti kamu merindukan aku yang telah tiada, kamu jangan memandang foto ku, Tapi pandang lah suami mu. Semua rindu mu pasti akan terobati.Maaf karena tak bisa membuatmu  jengkel lagi.”
Aku memejam kan mata ku, dan ketika aku membukanya lagi. Aku sudah berada di luar tubuh ku kembali .
Melihat aku sudah tak bernafas , Pretty dan bunda langsung histeris memelukku yang saat itu mengeluarkan banyak darah dari dalam jantung ku. Saat itu Pretty  bersumpah, tidak akan pernah mencuci bekas darah ku di baju pengantinnya. Ivan terus mencoba menenangkannya yang terlalau histeris seperti orang gila.
                Sorenya, mereka menguburkan jasad ku ke liang lahat. Aku menangis saat bunda berusaha masuk ke liang lahat untuk terus selalu bersama ku. Pretty membujuk bunda agar tak melakukannya, dan merelakan kepergian ku.

                Aku berdiri di atas kuburuan ku, Pretty terkejut karena aku tahu pasti dia melihat ku saat itu. Cahaya putih, yaitu cahaya matahari menyinari kuburan ku. Tiba-tiba saja aku terangkat, aku tersenyum sambil melambai kan tangan ku kepada Pretty. Satu-satunya yang ku tahu saat aku terangkat dan dia melihat ku dalam wujud roh,Dia menangis di pelukan suaminya. Dan itu membuat ku tersenyum untuk yang kesekian kalinya.



TAMATTTTT  hohohoho Sedih yaa  :'( .. 
Ini Cerita adalah cerita lama yang udah ku buat . InfoHood ini Cerbung aku buat sekitar umur ku masih 15 tahun hahaha,, itu udah 5 tahun yang lalu hahaha...
Ya tapi lumayan juga untuk di share ,.. Oke deh .. Selamat menunggu Cerbung Berikutnya ya >.< ^_^

Kamis, 09 Juli 2015

Bian Si Pendonor Cinta Bag3

                Pagi menjelang, aku terbangun akibat sinaran matahari memancar di mata ku. Ku lihat di meja kamar ku telah tersedia susu segar yang sedang menunggu ku untuk ku minum. Aku langsung menyambar dan meminum susu itu, lalu pergi mandi.
                Dengan baju yang tebal, aku dan Ivan keluar Vila. Sekedar hanya ingin berjalan-jalan melihat kebun teh di depan kami. 
 “Sepertinya aku dan Pipi, sudah klop untuk menikah.” Ivan membuka percakapan yang langsung membuat jantung ku tersengat. Aku hanya bisa tersenyum sambil mendekap jantung ku
.”Bagaimana menurut mu?Apakah aku akan melamarnya?” Tanya nya.
“Aku rasa , kamu bisa mengutarakannya hari ini.” Usul ku yang aku rasa itu gila..
“Baik lah , akan ku utarakan malam ini. Aku harus mempersiapkan semuanya sekarang. Maaff ya, ku tinggal dulu.” Jawabnya dengan kegirangan, lalu berlari meninggalkan ku.
                Rasa sakit jantung ku tak tertahankan lagi,aku berjalan tertatih-tatih kesakitan. Tak lama kemudian mata ku mulai buram, seseorang menangkap ku dari belakang. Aku melihat Pretty saat itu, wajahnya buram dan tak dapat ku lihat jelas. Dia membawa ku ke bawah pohon dengan rumput jepang dimana-mana. Dia meletakkan tubuh ku di pangkuannya.
Dia terus menangis, itu dapat ku rasakan karena air matanya berulang kali menetes di wajah ku,dan membuat ku terbangun dari pingsan ku.
”Kenapa harus menangis?” Aku terdongak ke atas untuk menghapus air matanya sambil tersenyum.
Dia hanya memilih membisu dan menangisi keadaan ku. Aku melanjutkan perkataan ku, “Aku sepertinya sudah membaik.” Aku beranjak bangun dari pangkuannya yang nyaman.
“Terlalu berat bagi ku untuk berpura-pura tidak mencintai mu.” Utaraan isi hati nya yang membuat ku lirih.
“Andai kan aku adalah orang yang mempunyai jantung yang sehat, aku pasti tidak akan membiarkan mu tersiksa seperti ini.” Aku menepis keadaan dengan kata-kata yang tak mungkin terjadi.
                Aku mengajak Pretty kembali ke villa, karena hari mulai beranjak malam. Sesampainya di villa aku melihat Ivan sedang duduk di bangku taman depan sambil membawa segerombolan balon berwarna merah dan berbentuk hati. Dia mengacungkan tangannya kearah aku, kini aku tau apa maksudnya, aku tersenyum. Ivan mendekati Pretty sambil memberikan balon itu ke Pretty.
 “ Aku sebenarnya sudah memendam terlalu lama perasaan terhadap mu, tapi kini aku siap mengatakannya.” Dia pun menghela nafas nya dan mengambil sebuah cincin indah dari kantong celananya lalu melanjutkan kata-katanya, “Aku mencintai mu, aku ingin melamar mu sekarang. Aku ingin kamu menjadi istri ku, Apakah kamu bersedia?” Perlahan-lahan aku mundur ke belakang beberapa langkah.
 Pretty mulai menangis, “Kamu melamar ku?” Serunya.
“Iya.” Jawab Ivan dengan penuh senyuman lebar di bibir nya.
                Pretty melihat ke arah ku yang saat itu sedang mendekap jantung ku yang terluka dan  sangat perih sekali. Aku tersenyum. Ivan melihat ku lalu beralih lagi pandangannya ke Pretty , Dia mulai curiga kalau sedang terjadi sesuatu antara aku dan Pretty. “Kalian saling mencintai ?”Tanya nya yang sangat mengejutkan ku.
“Ya,, aku memang mencintainya, dan dia juga mencintai ku. Hanya karena ada penghalang di antara kami, dia tidak bisa menerima cinta ku.” Teriak Pretty seperti meledak.
Dia berlari meninggalkan kami ke taman belakang.
 “Kenapa kamu gak pernah cerita ke aku,bi?”Tanya Ivan menatap ku dengan tatapan bersalah.
 “Aku bisa jelasin semuanya ,van….” Ivan langsung memotong pembicaraan ku, 
“Aku bodoh sekali, aku terlanjur melukai hatimu bi. Maafin aku, aku mohon kamu harus mengejar Pretty, bi!!Dia sangat membutuhkan mu saat ini.”“Baik lah, tapi kamu harus menunggu kami di sini!” 
Aku langsung berlari ke taman belakang.   Aku menemukan Pretty sedang menangis di bawah pohon cemara kecil di taman belakang, aku duduk di sampingnya. “Kamu gak mau mempertimbangkan lamaran Ivan?” Tanya ku sangat berhati-hati.“Untuk apa, seratus kali pun dia melamar ku , aku akan tetap menolaknya.” Pretty meledak-ledak.“Ayolah, dia mencintai mu.” bujuk ku .“Tapi aku tidak mencintai nya, aku mencintai mu. Dan hanya akan menikah dengan mu!!” Katanya, Lalu dia menambahkan lagi, “Aku sangat tersiksa melihat senyummu itu tadi, Kamu pikir aku tidak tau kalau kamu sangat sedih dan hati mu perih saat dia memegang tangan ku dan mengatakan semuanya.Tapi apa reaksi mu?? Kamu hanya tersenyum seolah-olah kamu bahagia tetapi kamu menyembunyikan rasa sakit mu di balik senyuman mu itu. Semuanya tak terlihat oleh Ivan, karena kamu sangat mahir beracting di depannya.Tapi aku dapat melihatnya karena aku tau hati mu sedang merintih kesakitan memanggil nama ku.”
 Aku hanya terdiam karena mendengarkan utaian kata panjang dari mulutnya.“Aku hanya ingin melihat mu memiliki kehidupan yang normal bersama Ivan.”“Apakah hanya karena kamu memiliki jantung yang tak normal maka kamu mendefinisikan kalau kehidupan mu tak normal.” Sambungnya.  Dengan perasaan sedih bercampur murka aku berdiri dan langsung mengoyak baju kemeja katun ku, yang saat itu ku kenakan. “Kamu lihat ini!!Ini lah yang akan membuat mu malu jika kamu mengakui ku sebagai kekasih mu.” Bentak ku sambil menunjuk bekas jaitan operasi ku. Air matanya mengalir sangat deras sekali. 
 Tiba-tiba aku melihat seseorang sedang memperhatikan kami dari kejauhan, Anak laki-laki itu berjalan mendekati kami. Dan dia adalah Ivan,dia terbengong  seakan tak percaya melihat bekas jaitan operasi membekas di dada sahabat nya. 
“Kamu hebat!! Kamu tidak pernah menceritakan sedikit pun tentang ini ke aku , bi!” Ivan terduduk lemas di samping Pretty. Aku mulai jongkok perlahan, mengambil tangan Ivan dan Pretty,
 “ Waktu ku tak akan lama lagi, aku yakin ajal akan menjemput ku sebentar lagi. Aku mohon kepada kalian, senang kan lah aku di hari-hari terakhir ku.”
“Tapi , aku tidak akan menikahi Pretty jika dia dalam keadaan terpaksa.” Kata-kata Ivan membuat ku langsung menoleh ke arah Pretty sambil menggemgam kedua tangannya, “Ada yang ingin kamu katakan?”
Dia pun melontarkan suara dari mulutnya,” Aku tidak mencintainya.” Aku langsung menjawabnya, “Tapi kamu menyayanginya kan?” Dia pun mengangguk dua kali.“Cinta mu kepada Ivan,itu akan perlahan tumbuh di hatimu. Kamu hanya perlu bersabar.” Aku mencoba meyakinkannya. 
“Jika aku menikah dengan Ivan,Bagaimana dengan cinta mu kepada ku?” Tanya nya lagi sambil mengaliri tangan ku dengan air mata. Sekejap aku menoleh ke arah Ivan, dan mengambil tangannya. Aku letakkan tangan Ivan tepat di atas bekas jaitan operasi ku,dan tangan ku yang lainnya memegang tangan Pretty.
“Dari pada cinta ku mati percuma, aku akan mendonorkan cinta ku kepada Ivan. Sehingga Cinta ku padamu tetap ada di dalam raga Ivan.” Setelah aku mengatakan itu, Jantungku  menjadi sangat sakit sekali, dengan mata yang berkunang-kunang aku melepaskan tangan mereka berdua. Aku langsung terkapar hampir tak bernafas di atas rerumputan. 
 Suara mereka yang panik masih terdengar samar-samar oleh ku. Mereka cepat-cepat membawa ku ke kota. Aku dapat melihat Ivan yang panik menyetir dan Pretty yang terus menangis ketakutan. Aku juga dapat melihat raga ku di sana, tepat di pangkuan Pretty.

Rabu, 08 Juli 2015

Bian si pendonor cinta Bag 2

Hi InfoHood ^_^ Jumpa Lagi!! ahahaha,,,

Ini lanjutan Cerbung Selamat menikmati  ^_^ ...


                Malam yang buruk itu pun berganti menjadi pagi. Bunda terus mengetuk pintu kamar ku, tapi aku tak sanggup menjawabnya. Bunda masuk dengan wajah yang cemas, Bunda menangis karena melihat wajah ku yang pucat sambil menahan sakitnya jantung ku yang terus berulah. Bunda langsung menelpon Dokter yang biasanya menangani ku.

15 menit kemudian, dokter Rizal pun datang . Dengan cekatan Dokter Rizal mengobati ku. Setelah selesai,dokter menganjurkan aku untuk tidak mengikuti kuliah hari ini. Keadaan ku kini mulai membaik,Karena keadaan ku semakin normal ,dokter itu pun berpamitan pulang.
                5 menit kemudian, Pretty dan Ivan datang bermaksud untuk mengajak ku berangkat kuliah bareng , tapi mama bilang aku lagi demam. Suara mereka sangat jelas terdengar dari balik pintu.
                Secara pelan-pelan, Pretty masuk ke kamar ku, “Kamu kenapa sih sering banget demam kayak gini?” Dia bertanya dengan nada yang sangat khawatir. Aku hanya tersenyum melihat wajahnya yang sedih karena melihat ku. “ Kalian harus kuliah,Kalian bisa menjenguk ku nanti . Saat ini aku ingin sekali istirahat.” Ucap ku dengan suara yang serak dan terlihat lemas.
“Baik lah,kami pergi dulu ya. Kami janji ,kami akan menemani kamu nanti.” Jawab Pretty  yang langsung keluar dari kamar ku. Ivan memalingkan kepalanya kearah ku, dengan tangan yang gemetaran aku mengajungkan jempol ku, bermaksud mengatakan bahwa,dia mempunyai kesempatan untuk mendekati Pretty. Ivan hanya membalasnya dengan senyuman memelas.Mereka keluar dari kamar ku. 
  Siangnya , di saat aku terbangun dari tidur ku , aku di kellilingi oleh bunda,mama Pretty dan mami Ivan. Mereka semua sangat menyayangi ku.
Mami pun membuka percakapan , “ Bian, kamu harus di operasi lagi. Mami takut keadaan kamu semakin parah.”
 “Maafin Bian mi, tapi Bian sama Bunda gak punya biaya nya.” Jawab ku yang masih terus mendekap dada ku dengan tangan kanan ku.
“Jangan pikir kan soal biaya , Bian. Mama dan Mami akan bantu.” Sambung mama Pretty.
“Percuma juga Bian di operasi ma, hanya akan buang-buang uang saja. Ivan dan Pretty kan juga harus kuliah, sayang uangnya kalau di gunakan untuk biaya operasi Bian. Biarkan saja Ajal cepat-cepat menjemput Bian, supaya Bian tak tersiksa lagi karena sakit ini.” Jawab ku mencoba menjelaskan , dan karena jawaban ku yang tadi,Bunda jadi menangis dan meninggalkan ku keluar kamar.
Mama dan mami langsung menyusul bunda. Aku menghela nafas, karena aku tau perkataanku tadi melukai hati bunda.
                Matahari mulai turun, terlihat jelas dari jendela kamar ku. Tiba-tiba aku mendengar suara langkah seseorang yang semakin mendekat menuju kamar ku. Pintu kamar ku terbuka, dan aku melihat Pretty datang mendekati ranjang ku sambil membawa 3 rantai anggur, buah kesukaan ku.
“Malam..” Sapa Pretty sambil meletakkan anggur itu di meja dan dia duduk di pinggiran ranjang ku.
“Malam,Pipi.” Sapa ku balik sambil mencoba untuk duduk , dia membantu ku duduk.
“Ivan mana?” Tanya ku yang tak melihatnya. “ Maaf ya bi, Ivan malam ini melayani klien nya . Jadi Gak bisa jenguk kamu lagi, tapi tadi dia jenguk kamu kok pas sore-sore. Sayangnya kamu lagi tidur.” Jelas Pretty.
“Oh.. aku ngerti kok, itulah resikonya bekerja sebagai pengacara.”Jawab ku.
                Pretty mengambil  1 buah anggur lalu menyuapi nya ke aku, “Kenapa sih, kamu harus terus-terusan sakit seperti ini. Aku selalu sedih melihat mu merintih kesakitan.” Dia mulai menangis.
“Dari kecil daya tahan tubuh ku memang lemah ,pi. Maafin aku ya, kalau sering buat kamu sedih.” Jawab ku.  Dia hanya mengangguk saja.
                “Ada yang ingin aku katakan sama kamu,bi.” Katanya sambil terus menangis. 
“Aku Cinta sama kamu. Orang yang selama ini ku maksud itu adalah kamu.” Air mata nya pun terus deras mengalir. 
“Aku tak tahan lagi terus-terus memendamnya, aku selalu menunggu mu mengatakan nya, tapi kamu tak pernah mengatakannya.” Aku hanya terdiam saja, jantung ku berdetak kencang mendengarkan ungkapan isi hatinya.
 “Aku tau, kamu juga mencintai ku. Semuanya terlihat dari mata mu.” Lanjutnya lagi.  Jantung ku mulai merasakan sakit dengan, reflex aku mendekap dada ku.
 “Kamu tak boleh mencintai ku,pi.”Jawab ku dengan nafas ku yang sesak.
“Kenapa gak boleh?”Tanya nya sambil terus mengeluarkan air matanya.
“Karena kamu salah duga, Aku tak mencintai mu.” Aku terpaksa mengatakannya, karena aku takut dia akan terpuruk ketika dia tau aku saat ini dalam kondisi yang kritis.
                “Kamu bohong.”Teriaknya yang langsung berdiri, “Aku tau kamu mencintai ku. Aku tau itu nyata. Bi, Tolong jangan bohongi aku.”
  Aku mencoba untuk berdiri dengan tangan kanan yang masih mendekap dada ku. Perlahan-lahan aku mendekati Pretty ,“Kamu benar,aku sangat mencintai mu tapi saat ini aku sedang berpura-pura tidak mencintai mu, karena…” Aku pun membuka satu persatu kancing baju ku, saat itu dia terkejut melihat bekas jaitan di dada ku,tepatnya di dekat jantung ku berada.
 Saking shock nya Pretty tak mampu berbicara apa pun lagi ,dia terus menangis dan menangis sambil menyentuh bekas jaitan yang ada di dada ku.
                Dia terduduk lemas di ranjang ku, aku pun juga duduk di ranjang itu bersamanya. “Ceritakan semuanya !! Kenapa kamu jadi seperti ini?” Pretty terus mendesak ku, akhirnya aku pun menceritakannya ,” Waktu aku berumur 15 tahun, jantung ku sering sekali sakit. Karena khawatir bunda langsung membawa ku ke rumah sakit. Aku di vonis dokter mengalami pembekakan jantung. Dokter juga menyatakan bahwa umur ku tidak akan panjang.Berbagai macam Operasi dilakukan, tapi tak bisa juga menyembuhkan ku. Akhirnya aku memutuskan tak mau di operasi lagi.” Cerita ku panjang lebar.
“Kenapa?” Tanya Pretty yang masih terus saja mengeluarkan air mata.
 “Karena aku gak mau menyusahkan bunda,mama mu, dan mami Ivan. Hidup mereka masih panjang, mereka lebih membutuhkan uang itu daripada aku.” Jawab ku.
 “Aku tak peduli keadaan mu bagaimana. Aku bisa menerima semuanya. Aku hanya ingin memiliki mu.” 
Aku langsung membatahnya,”Aku gak bisa pi, semuanya gak segampang yang kamu pikirkan.”
“Kamu sungguh egois!!” Teriaknya lagi yang hampir pergi keluar dari kamar ku.
Aku langsung menarik tangannya. Sungguh tak tahan aku melihatnya seperti ini, aku memeluknya erat sekali dan mengucapkan, “Bukan karena aku egois, tapi aku gak mau kamu semakin mencintai ku, jika itu terjadi kamu akan sangat merasakan sakit dan trauma ketika aku meninggalkan kamu. Maafkan aku , ku lakukan semua itu karena aku mencintai mu.”
                Dia terus menangis, dia mendekap tubuh ku erat sekali. Aku melepaskan pelukan itu,menghapus air mata nya dari wajahnya yang cantik itu.
 Setelah kejadian itu berakhir, aku mengantarnya keluar sampai depan pagar rumahku.Dia pun pulang ke rumahnya. Aku langsung berbalik arah, aku melihat bunda ku berdiri di depan pintu sambil menangis. Bunda berlari memeluk ku, sepertinya dia mendengar pembicaraan aku dan Pretty tadi di kamar.
                Keesokan hari pun tiba, dengan semangat yang luar biasa aku bangun dan berangkat kuliah bersama ke 2 sahabat ku . Ivan menurunkan aku dan Pretty tepat di depan kampus kami, setelah mengantarkan kami ,dia cabut deh ke kampus nya. Katanya sih dia ada jam kuliah yang udah terlambat 5 menit, jadi buru-buru deh anak itu.
                Aku dan Pretty masuk ke kelas kami. Jam mata pelajaran kuliah pun di mulai, kami semua sangat serius memperhatikannya.
5 jam sangat cepat terlewati, itu menandakan bahwa jam mata kuliah kami hari ini berakhir. Aku dan Pretty memilih nongkrong di tempat kami biasa menunggu Ivan.
“Woyyy..” Seru ku yang secara tiba-tiba menarik hidungnya .
“Ih,, Apaan sih…” Dia langsung mencampakkan tangan ku.
“hahahaha,,,” Aku pun tertawa . Aku sangat senang sekali membuatnya Jengkel.
“Terus lah menjadi seperti ini!!” Dia menatap ku serius..
 “Agar aku dapat cepat melupakan kejadian semalam.” 
Aku hanya tersenyum lepas.
“Kamu tau, kamu tu cocok banget jadi actor.” Sambungnya lagi,
”Karena kamu bisa menyembunyikan rasa sakit kamu di balik senyuman mu itu. Sampai-sampai aku sendiri yang sudah 20 tahun bersahabatan dengan  kamu, tidak menyadari kalau kamu lagi merintih kesakitan.” 
Aku terdiam mendengar perkataanya.Lalu sambil tersenyum aku mengatakan,”Kalau begitu , kamu harus ikut di dalam film tentang kehidupan ku ini. Beracting lah bersama ku. Beracting lah sebisa mu untuk menutupi semuanya dari orang lain.”
                Ivan  akhirnya muncul dengan mobilnya, dan menyuruh kami masuk ke dalam.
“Besok kan kita libur, gimana kalau kita ke puncak ?” Suara ku menggelegar di mobil.
“Boleh..boleh…” Sahut Ivan.“Gak boleh,,Keadaan kamu masih lemah bi, kamu harus istirahat!!” Potong Pretty tiba-tiba dari bangku belakang.
“Ayolah Pi, aku hanya membutuhkan udara segar. Lagian kita juga udah jarang jalan-jalan bertiga kayak dulu. Sadar gak kalau sekarang ini kita selalu sibuk dengan urusan kita masing-masing.” Aku mencoba membujuknya. Tapi dia malah menutup wajahnya dengan majalah yang di pegangnya.“Terserah…….”Jawabnya ketus.
                Kami Akhirnya memutuskan untuk pergi ke puncak hari ini juga. Kami pertamanya pulang dulu untuk mengambil pakaian dan segala macam peralatan yang nanti kami butuhkan disana. Gak lupa juga membawa bekal yang cukup. Kami pun berpamitan pergi kepada orang tua kami.

                Sampai di Vilanya Ivan, aku langsung membereskan kamar ku. Aku melihat pemandangan yang indah sekali di balkon depan kamar ku. Tak sengaja aku melihat ke bawah dan melihat Ivan dengan Pretty berduaan. Aku melihat Pretty tertawa lepas di dekatnya.Aku sungguh cemburu melihat mereka , tapi mau tak mau aku harus tetap tersenyum melihat mereka.Karena merasa bersalah aku tak mau melihat mereka lagi, aku memutuskan untuk tidur.





Ceritanya kita lanjut esokk ya hahaha ,, Sampai Jumpa!!

Senin, 06 Juli 2015

Bian Si Pendonor Cinta bag 1

Hai Guys ^_^ , udah lama ya aku vakum dari kegiatan blogging hahaha.. biasa lah , aku sibuk dengan urusan kuliah haha, dan ada beberapa juga urusan lainnya.

Kalii ini aku lagi pengen ngeshare Cerbung ( Berharap ada produser atau sutradara yang mau angkat cerita ku jadi FTV atau Film hahaha)
Aku memang suka menulis sih , hihii!!! Aku berharap banyak yang suka,,
 OH iya ,, aku trima kritik dan saran ya!! .. Boleh deh di isi tu komentar di bawah!!..

OK kita langsung aja deh yaa..

Bian si pendonor cinta

        Nama ku Bian Jikizi, aku seorang lelaki muda berumur 20 tahun. Aku mempunyai 2 sahabat baik yang pertama namanya adalah Pretty Dinata , dia ini anaknya sangat manis sekali dan dia juga mempunyai lesung pipi di pipi kirinya. Nah, yang kedua namanya adalah Ivan Satria, Hemm… kalau yang ini anaknya cukup keren, dan cool. Sedangkan aku adalah seorang pria manis yang memiliki bola mata kehijau biru-biruan. Penampilan ku selalu biasa saja, tak pernah menonjol seperti Ivan.
                Aku juga termasuk anak yang ceria, tak pernah sedikit pun aku menghilangkan senyum ku ini dari bibir ku, Walaupun seorang dokter memvonis aku waktu berumur 15 tahun, bahwa aku terkena Pembekakan jantung yang sudah akut dan umur ku tidak akan pernah sampai menginjak 21 Tahun. Tapi aku tak pernah peduli.Sampai saat ini tak pernah ada yang tau kalau aku mengidam penyakit itu kecuali aku, Bunda ku, Mamanya  Pretty, dan Maminya Ivan…

    Aku dan sahabat ku Pretty kuliah di Universitas Mada Seni Sastra. Aku dan Prety sama-sama  mencintai seni dan satra, dan sementara itu Ivan kuliah di Universitas Negeri dengan mengambil jurusan Hukum.
Saat ini, aku dan Pretty sedang menunggu Ivan menjemput kami pulang …
“Pipi,, aku boleh Tanya?” Tanya ku ke Pretty sambil menyeduh kopi yang kami beli tadi.
“Tanya apa sih, Abi?”Tanya dia lagi kepada ku.
“Hem.. wajah semanis kamu, kok sampai sekarang gak pernah laku-laku ya.” Lontar kata ku yang membuat nya seperti sangat jengkel dengan ku.
“Dasar Bian bodoh, asal kamu tau ya, banyak banget  cowok tergila-gila sama aku. Enak aja bilangin orang gak laku-laku.” Jawabnya kesel sambil menendang kaki ku.
“Hahaha,,, Iya deh maaff. Kenapa sih kamu gak mau pacaran?” Tanya ku lagi dengan nada yang sangat serius. Dia pun meletakkan Kopinya di atas buku-buku itu lalu, menatap ku dengan tajam sambil mengatakan “Aku sedang menyukai seseorang, aku terus menunggu nya sampai dia menyatakan cinta pada ku.”
 Aku mulai penasaran dan rasa ingin tahu terus mendorong ku untuk  mencari tahu ,Siapa dia? 

        Tin…Tin…, terdengar suara klakson mobil yang membuat kami sontak melihat kearah Ivan dengan mobil Honda jazz nya itu.
Ivan menyuruh kami masuk ke dalam mobil, kami pun masuk ke dalam mobil tersebut, lalu berangkat .
”Hari ini kita makan siang di  rumah Pipi ya!” Seru Ivan memecah kesunyian.
"Oke ,," Jawab kami berdua .
                
***

Akhirnya kami berhenti tepat di depan rumah Pretty , Kami bertiga pun berjalan masuk ke rumah Pretty. 
“Mama..” Teriak ku.
 Mamanya pretty sih hanya tertawa melihat pola tingkah laku ku. Sejak kecil, aku sudah terbiasa memanggil mamanya Pretty dengan sebutan Mama juga. Pretty juga begitu , dia sudah menganggap bunda ku seperti bundanya juga.
“Kalian pasti sudah lapar ya?” Tanya mama Prety.
“Iya,, laper banget malahan , tante.” Jawab Ivan sambil mengelus-ngelus perutnya yang sedikit buncit.
“Kalian ini , kebiasaan deh !!Dari kecil sampai sekarang gak pernah berubah. Dia kan mama ku.” Dengan kesal Pretty mengatakan itu.
 “Dia kan juga mamaku.” Balas perkataan ku sambil menarik mamanya Pretty ke dapur.

Aku sengaja meninggalkan mereka berdua di ruang tamu, karena aku mulai menafsirkan kalau orang yang Pretty suka adalah Ivan. Karena menurut pemikiran ku, selama ini lelaki yang dekat dengan pretty hanya lah aku dan Ivan saja. Kalau Pretty menyukai ku itu tak mungkin, maka dari itu lah aku menyimpulkan kalau Pretty menyukai Ivan.
“Mereka sangat cocok ya ma.”Kata ku kepada mama Pretty yang saat itu sedang menggoseng nasi gorengnya.
 Mama  menoleh kearah mereka sebentar , lalu mengalihkan lagi pandangannya ke nasi goreng yang sedang di buatnya.  “Hahaha,, mama rasa juga begitu.” Jawab mama yang kali ini  menambahkan sedikit garam kepada masakannya, lalu melanjutkan perkataannya lagi, ”Mama mau tanya sama kamu,, kamu sebenarnya suka kan sama anak mama?”
Aku pun menghela nafas,,,
“Baiklah, Bian ngaku deh sama mama. Maaf ma , kalau Bian lancang tapi Bian udah suka sama Pretty itu udah lama. Sekitar 2 tahunan gitu.” Jawab ku jujur.
“Gak apa-apa Bian. Mama sih kecewa sama kamu, kenapa kamu gak pernah mengutarakannya?” Tanya mama penuh kekecewaan.
 “Maafin Bian , ma. Tapi Bian gak mungkin bilang tentang perasaan Bian ke Pretty.” Jawab ku yang mengeluarkan air mata.
“Ya, mama tau. Bunda mu sudah cerita semuanya ke mama.” Potong mama sambil memelukku.
                
“Mama, Abi.. “ Suara Pretty mengejutkan kami saat itu,dia pun langsung menghampiri kami karena telah melihat aku dan mama berpelukan.
 “Kalian kenapa? Mama ,, kenapa Abi peluk-peluk mama?”
“Cemburu ya!! Siap-siap aja deh, bentar lagi aku bakalan jadi papa tiri mu.” Aku terus meledeknya.
 “Ish….. “ Keluh nya dengan sangat kesal, lalu dengan tampang cemberut, dia meninggalkan dapur.
“Kamu seperti tidak sakit , Bi.”Pernyataan mama yang membuat ku tersenyum.
“Aku Cuma gak mau orang lain tau , ma. Lagian kita be-4 udah janji untuk merahasiakannya.” Jawab ku sambil tersenyum lepas.
“Pretty pernah curhat ke mama tentang perasaannya ke seorang lelaki.” Aku tertegun dengan perkataan mama yang tadi, mama pun bertanya, “ Kamu tau,kenapa selama ini Pretty gak mau pacaran?” aku hanya menggeleng saja, mama melanjutkan ceritanya, “Itu karena dia menyukai teman kecilnya.”Rasa Penasaran ku kembali bergejolak , dan memotong perkataan mama, “Setahu Bian, teman kecilnya Pretty kan Cuma Bian sama Ivan aja, ma.” Jawab ku.
“Ya memang, orang yang di sukai Pretty adalah salah satu dari kalian.” Cerita mama lagi.
“Ya , mungkin aja Pretty menyukai kamu,Bian.” Aku hanya tertawa dan menggelengkan kepala ku saja karena mendengar perkataan mama. “ Gak mungkin lah ma…” Sangkal ku.

*** 
                Makan siang sudah selesai dibuat, aku dan mama sama-sama membawanya ke ruang tamu.
Aku sdikit mulai menggoda-goda Ivan dan Pretty “Weleh,, mesra banget kalian berdua.”
“Apaan sih…??” Pretty dartadi terlihat kesal sekali. 

        Aku meletakkan nasi goreng yang di buat mama tadi di atas meja. Mama pun berpamitan mau ke belakang.
 Ku lihati Ivan dan Pretty  bercakap-cakap,seperti nya seru sekali. Aku terus mereka cuekin. Sesekali Pretty melihat kearah ku,tapi Ivan berusaha keras untuk membuat Pretty terus melihatnya. Melihat mereka berdua sedekat itu membuat ku sangat cemburu, tapi terus ku tahan-tahan.  Semakin lama, aku semakin cemburu . Aku berdiri dari tempat tadi aku duduk, tapi Pretty langsung memegang tangan ku, “Mau kemana?” . Aku pun menjawab pertanyaannya, “ Aku mau pulang , Pi.”
“Gak boleh!” Seru Pretty yang membuat jantungku deg-degan karena dia terus memegang tangan ku.
“Aku harus pulang Pi. Aku udah ada janji sama bunda.” Jelas ku. Ivan pun ikutan-ikutan berdiri , “Biarin aja lah Abi pulang pi, kan kasian nanti bunda nunggu-nunggu Abi.”
“Tapi kamu gak bohong kan bi?” Tanya Pretty memastikan. Aku tak menjawab pertanyaan terakhir Pretty. Aku langsung berlari ke luar rumah Pretty sambil berteriak, “Kalian lanjutin aja pacarannya ya,, hahahahaha.”
         
       Malam hari tiba, Bunda ku mengetuk pintu kamar ku , “ Bian,, ada Ivan itu di bawah.”
“Suruh masuk ke kamar aja, bunda.” Jawab ku dari dalam kamar.  
Tak berapa lama kemudian Ivan langsung terjun ke ranjang ku. Aku langsung menutup buku yang tadi sedang ku baca.
“Kamu kenapa sih,van?” Tanya ku semriwing karena melihat dia kegirangan sendiri.
“Kayaknya aku lagi jatuh cinta ni , bi.” Katanya .
“Sama siapa?” Tanya ku penasaran. Ivan pun langsung menjawab dengan senangnya, “Sama Pipi, bi.”
Senyum ku menghilang sekejap karena mendengarnya. Tapi aku langsung mengembalikan senyum ku lagi.“Bagus deh, Kalian cocok kok.” Jawab ku dengan senyuman berat.

“Kamu musti bantuin aku, supaya aku jadian sama Pipi.” Bujuk nya kepada ku. 
Dengan berat hati aku menjawab, “Iya, Pasti.”



InfoHood , tetap tungguin cerbung lanjutan bagian 2 nya ya ^_^ .. Selamat malam 

Popular Posts